Wednesday, April 1, 2009

Ironi Sebuah Hati

Gemerlap bintang malam
Tiada menyilaukan hati
Jiwa yang telsh setia menunggu
Dalam renungan, dalam detik yang terlewat
Hanya mempesona diri
Di kepalsuan yang menjadi ironi
Kemudian berubah menuju angkara
Berangan untuk mendengar suara
Ibarat terduduk di pojok
Berharap alam kaan memanggil
Sesungguhnya tidak
Karena semua telah hilang
Menggema ke ujung langit
Sampai tersadar bahwa cahaya, cahaya redup itu menampakkan bayangan diri
Sampai tersadar adanya harapan, dusta dan cinta di dalam relung hati

No comments:

Post a Comment